Rabu, 29/3/2023, Departemen Administrasi Publik mengadakan workshop kurikulum OBE. Dalam kegiatan ini Pemateri, Jon Rinaldi, Ph.D mengawali pengalaman dari pelaksanaan sistem penjaminan mutu internal di Universitas Andalas. RPS merupakan bagian dari SPMI. Landasan hukumnya adalah UU 12/2012 tentang penyelenggaraan Pendidikan tinggi di Indonesia. Sistem penjaminan mutu Eksternal (SPME) untuk penjaminan mutu, ketentuannya nasional berdasarkan BAN-PT dan LAM. Tahapan SPMI sesuai UU 12/2012 disingkat PPEPP
1. Penetapan standar dikti
2. Pelaksanaan standar dikti
3. Evaluasi dan pelaksanaan
4. Pengendalian dan pelaksanaan standar dikti
5. Peningkatan standar dikti
Terlepas dinamika yang berbeda antar perguruan tinggi dalam pelaksanaan SPMI, layanan akademik harus diperhatikan secara lebih detail termasuk dalam mempersiapkan RPS yang terbaru. Menurut narasumber RPS berbasis kurikulum OBE menitikberatkan metode pembelajaran kelas yang adaptif dan partisipatif agar mahasiswa bisa belajar sendiri dengan mencari sendiri denga nada arahan dosen. Ada 10 skill yang dibutuhkan untuk masa mendatang yang tidak bisa didapatkan dengan cara hanya membaca saja. Untuk mendapatkan 10 skill tersebut haruslah menyesuaikan metode pembelajaran. Tradional Teaching dimana dosen memberikan materi, dan mahasiswa menghafal hanya memberi dampak 10% bagi daya tangkap mahasiswa. Artinya mahasiswa tidak bisa menampung semua informasi yang ada di mata kuliah. Untuk itu diperlukan perubahan pola pembejalaran melalui penguatan RPS berbasis Project Based Learning (PjBL) dan Case Based Method (CBM)
Konsep PjBLatau pembelajaran bebasis proyek adalah pendekatan kelas yang dinamis dimana siswa secara aktif mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata dan memperoleh pengetahuan yang lebih dalam. Mahasiswa mengerjakan proyek tersebut dan dosen hanya sekedar mengarahkan saja. PjBL merupakan salah satu metode pembelajaran yang keluar dari kelas, kemudian yang bersifat jangka panjang. Dalam metode PjBl akan mendapatkan pengalaman, fenomena atau konteks nyata, sosial isu, mengetahui kebutuhan industri. PJBL harus mempunyai pengetahuan dasar dulu, baru mengerjakan sebuah kasus. Hal ini berbeda dengan CBM. PjBL memiliki kelebihan dan kekurangan.
Adapun konsep CBM menitikberatkan mahasiswa yang menemukan masalah berbasis studi kasus. Dalam pelaksanaanya CBM menitikberatkan kemampuan dosen mencarikan kasus yang relevan dengan topik yang dibahas, lalu mahasiswa yang mendiskusikan hal tersebut. Peran dosen dalam metode ini lebih kompleks. Jika pembuatan RPS dibuatkan dulu CPMK baru materi pembelajarannya. CBM memiliki 5 langkah, keunggulan dan kekurangan.